Review Film Tron: Ares – Sci-Fi denga Visual Gila. Tron: Ares, sekuel ketiga dari franchise sci-fi ikonik Disney yang tayang sejak Oktober 2025, akhirnya membawa dunia digital kembali ke layar lebar dengan visual yang benar-benar gila. Disutradarai Joachim Rønning, film berdurasi sekitar 2 jam ini dibintangi Jared Leto sebagai Ares, program AI canggih yang dikirim dari Grid ke dunia nyata untuk misi berbahaya, menandai pertemuan pertama manusia dengan entitas AI. Didukung Greta Lee sebagai Eve Kim, Evan Peters, Jodie Turner-Smith, Hasan Minhaj, dan cameo Jeff Bridges sebagai Kevin Flynn, film ini menggabungkan neon futuristik, soundtrack Nine Inch Nails yang menghentak, serta efek visual memukau. Meski ceritanya terasa familiar, visualnya jadi bintang utama yang membuat banyak penonton terpukau. Apakah ini sci-fi visual feast yang layak ditonton, atau hanya gaya tanpa substansi? Mari kita ulas lebih dalam. BERITA BASKET
Kekuatan Utama: Visual Gila dan Soundtrack yang Memukau dari Film Tron: Ares: Review Film Tron: Ares – Sci-Fi denga Visual Gila
Yang paling bikin Tron: Ares sulit dilupakan adalah pencapaian visualnya yang luar biasa. Neon hues cerah, desain Grid yang diperbarui, serta transisi mulus antara dunia digital dan realitas terasa seperti mimpi cyberpunk hidup. Setiap frame seperti karya seni digital—dari light cycle chase yang intens hingga pertarungan laser dan efek AI yang muncul di dunia nyata. Efek CGI-nya smooth, terutama saat Ares berinteraksi dengan lingkungan manusia, menciptakan kontras mencolok antara neon biru-oranye dan kota modern. Banyak yang bilang ini salah satu visual terbaik tahun ini, layak ditonton di IMAX atau Dolby untuk maksimalkan pengalaman. Soundtrack Nine Inch Nails jadi pelengkap sempurna: beat industrial yang hypnotic dan pulse-pounding memperkuat ketegangan serta imersi, membuat adegan aksi terasa lebih epik. Jared Leto sebagai Ares tampil subdued dan convincing—dia membawa nuansa AI yang pelan-pelan belajar humanity, dengan ekspresi stoic yang pas. Greta Lee sebagai Eve Kim memberikan grounding emosional, sementara cast pendukung seperti Evan Peters dan Jodie Turner-Smith menambah dinamika. Secara teknis, ini feast untuk mata dan telinga.
Kelemahan: Cerita yang Terlalu Programmatik dan Kurang Mendalam di Film Tron: Ares
Sayangnya, kekuatan visual tak sepenuhnya menutupi kelemahan narasi. Plotnya terasa predictable: AI jahat vs. manusia, eksplorasi identitas, dan ancaman eksistensial yang mirip banyak film sci-fi AI sebelumnya. Cerita terlalu fokus pada spectacle sehingga karakter terasa kurang berkembang—dialog kadang klise, dan tema human connection tak dieksplorasi dalam. Beberapa kritikus menyebutnya “narratively programmatic,” artinya terlalu formulaik dan kurang autentik secara emosional. Pacing-nya solid di aksi, tapi bagian tengah agak lambat saat membangun konflik. Meski audience score tinggi (sekitar 84-87%), kritikus lebih campur aduk (sekitar 53-58% di Rotten Tomatoes), dengan Metacritic di kisaran mixed. Box office-nya moderat, dengan opening sekitar $33-35 juta, menunjukkan daya tarik visual kuat tapi tak cukup untuk jadi blockbuster besar. Bagi penggemar Tron Legacy, ini upgrade visual tapi kurang inovatif dalam storytelling.
Kesan Keseluruhan dan Rekomendasi
Secara keseluruhan, Tron: Ares adalah sci-fi dengan visual gila yang benar-benar memikat, terutama jika kamu suka estetika neon, efek canggih, dan soundtrack industrial. Ini bukan film dengan cerita mendalam atau twist revolusioner, tapi sebagai thrill ride visual dan audio, ia berhasil menghibur. Jared Leto memberikan performa solid sebagai AI, dan chemistry dengan cast lain cukup untuk menjaga minat. Jika kamu nonton di bioskop besar, pengalaman imersifnya akan bikin ketagihan—neon dan beat NIN terasa hidup. Bagi yang haus sci-fi spectacle ala Blade Runner meets The Matrix, ini pilihan asyik. Tapi jika cari narasi kuat, mungkin terasa kurang memuaskan.
Kesimpulan: Review Film Tron: Ares – Sci-Fi denga Visual Gila
Tron: Ares sukses besar dalam hal visual gila dan produksi teknis, menjadikannya salah satu film sci-fi paling eye-catching baru-baru ini. Dengan neon memukau, soundtrack Nine Inch Nails yang epic, serta performa Jared Leto yang convincing, film ini layak disebut sensory feast meski ceritanya terasa standar. Ini bukan revolusi franchise, tapi upgrade signifikan dari segi gaya dan imersi. Jika kamu penggemar genre atau ingin pengalaman bioskop yang dazzling, jangan lewatkan—Grid belum pernah seterang ini.

