Review Film The Room Next Door: Almodóvar Emosional. The Room Next Door karya Pedro Almodóvar yang tayang sejak akhir 2024 masih menjadi salah satu film paling emosional dan dibicarakan hingga awal 2026. Drama intim ini dibintangi Tilda Swinton sebagai Martha, penulis dan mantan koresponden perang yang sakit parah, serta Julianne Moore sebagai Ingrid, sahabat lama yang dipanggil untuk menemani Martha di akhir hidupnya. Berlatar sebuah rumah mewah di pinggiran Madrid, film berdurasi 107 menit ini berhasil memenangkan beberapa penghargaan festival (termasuk Best Actress untuk Swinton di Venice) dan mendapat rating Rotten Tomatoes 88% dari kritikus serta 85% dari penonton. Dengan gaya Almodóvar yang khas—warna cerah, dialog tajam, dan emosi yang meluap—film ini mengeksplorasi tema persahabatan, kematian, dan hak atas akhir hidup. Apakah drama emosional ini benar-benar menyentuh hati, atau terasa terlalu teatrikal? BERITA BASKET
Visual dan Gaya Almodóvar yang Khas di Film The Room Next Door: Review Film The Room Next Door: Almodóvar Emosional
Almodóvar sekali lagi menunjukkan keahliannya dalam menciptakan dunia yang sangat berwarna dan penuh emosi. Rumah tempat Martha dan Ingrid tinggal digambarkan dengan palet warna cerah—merah marun, kuning mustard, hijau zamrud—yang kontras dengan tema kematian yang berat. Setiap ruangan terasa seperti lukisan hidup: furnitur modern, lukisan abstrak di dinding, dan cahaya alami yang masuk melalui jendela besar. Sinematografi José Luis Alcaine menangkap close-up wajah kedua aktris dengan sangat intim—kerutan di sekitar mata, bibir yang gemetar, dan tatapan yang penuh beban terasa sangat dekat. Adegan-adegan dialog panjang di teras rumah atau di kamar tidur difilmkan dengan gerakan kamera lambat yang membuat penonton merasa ikut berada di ruangan itu. Musik Alberto Iglesias menggunakan piano lembut dan string yang menyayat, memperkuat rasa sedih dan kehangatan persahabatan yang tersisa.
Performa Tilda Swinton dan Julianne Moore: Review Film The Room Next Door: Almodóvar Emosional
Tilda Swinton sebagai Martha memberikan penampilan yang sangat kuat dan rentan. Ia berhasil membawa karakter yang tegas, sarkastik, tapi juga sangat rapuh di hadapan kematian. Ada momen ketika Martha meminta Ingrid membantunya mengakhiri hidupnya—dialog itu disampaikan dengan tenang tapi penuh beban emosional yang membuat penonton tercekat. Swinton menunjukkan sisi tubuh dan jiwa yang sangat jujur tanpa filter. Julianne Moore sebagai Ingrid juga tampil luar biasa—ia bawa karakter yang ragu-ragu, penuh rasa bersalah, tapi akhirnya setia menemani sahabatnya. Chemistry keduanya terasa sangat alami seperti dua sahabat lama yang sudah saling kenal puluhan tahun—ada candaan ringan, pertengkaran kecil, dan pelukan yang penuh makna. Adegan mereka berdua di teras rumah saat malam hari menjadi salah satu momen paling menyentuh sepanjang film—tanpa dialog berlebihan, hanya keheningan dan tatapan mata yang bicara banyak.
Kelemahan Pacing dan Pendekatan Emosional
Meski performa dan visual sangat kuat, film ini punya kelemahan di pacing yang sengaja lambat. Hampir seluruh cerita berlangsung di satu rumah dengan dialog panjang dan momen diam yang banyak—bagi sebagian penonton ini bisa terasa bertele-tele dan kurang variasi. Beberapa kritik bilang pendekatan Almodóvar yang teatrikal dan berwarna terlalu kontras dengan tema kematian yang berat, sehingga terasa agak tidak selaras. Ada juga catatan bahwa cerita terlalu bergantung pada dua aktris utama tanpa cukup konflik eksternal yang kuat—semua drama terjadi di dalam rumah dan di dalam pikiran karakter. Dibandingkan film Almodóvar sebelumnya seperti Pain and Glory yang lebih personal dan hangat, The Room Next Door terasa lebih dingin dan kurang punya “hati” meski tetap sangat indah.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang menyukai drama arthouse dan cerita tentang persahabatan serta kematian menyambut sangat positif—film ini laris di bioskop-bioskop indie dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal performa Swinton-Moore dan tema euthanasia. Box office US$45 juta (untuk film R-rated arthouse termasuk sukses besar) dan banyak penghargaan festival tunjukkan film ini punya daya tarik kuat. Di media sosial, klip adegan teras rumah dan monolog Martha jadi viral. Film ini juga membuka diskusi soal hak atas akhir hidup, persahabatan di usia matang, dan bagaimana menghadapi kematian dengan martabat. Banyak yang bilang ini salah satu film paling emosional 2025 dan layak dapat pujian atas keberaniannya menangani tema berat dengan cara yang indah.
Kesimpulan
The Room Next Door adalah drama emosional yang berhasil menyentuh hati dengan cara elegan dan mendalam. Tilda Swinton dan Julianne Moore memberikan performa luar biasa, visual gotik dan sinematografi memukau, serta cerita penuh empati membuat film ini layak ditonton. Meski pacing lambat dan cerita kurang inovatif dibanding karya Almodóvar terbaik, film ini tetap jadi tontonan berkualitas tinggi yang penuh makna. Worth it? Ya—terutama kalau kamu suka drama karakter dengan sentuhan emosi yang kuat. Kalau suka Pain and Glory, Parallel Mothers, atau The Father, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan tisu untuk momen akhir yang mengharukan. Almodóvar lagi tunjukkan kenapa ia tetap salah satu sutradara paling penting di dunia. Film ini menyentuh hati—dan itulah yang membuatnya spesial.

