Review Film Alchemy of Souls: Fantasi Romansa Penyihir

Review Film Alchemy of Souls: Fantasi Romansa Penyihir

Review Film Alchemy of Souls: Fantasi Romansa Penyihir. vof Souls tetap menjadi salah satu yang paling ikonik dan dicintai sejak tayang perdana pada 2022. Kini, di awal 2026, drama ini kembali menjadi perbincangan hangat setelah Netflix merilis ulang lengkap kedua bagiannya dalam paket spesial, lengkap dengan subtitle baru dan behind-the-scenes eksklusif. Dengan rating IMDb stabil di 8.7 dan jutaan penonton global, serial karya Hong Sisters ini berhasil menggabungkan elemen fantasi epik, romansa mendalam, aksi memukau, serta sentuhan komedi yang pas. Berlatar di negeri fiktif Daeho, kisah ini mengisahkan penyihir-penyihir muda yang nasibnya terjalin karena sihir terlarang bernama “alchemy of souls”—pemindahan jiwa yang mengubah segalanya. Meski sudah berakhir sejak 2023, daya tariknya tak pudar, bahkan makin kuat di kalangan penonton baru yang baru saja menemukannya di platform streaming. BERITA TERKINI

Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film Alchemy of Souls: Fantasi Romansa Penyihir

Alchemy of Souls terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama mengikuti Naksu (Jung So-min), seorang pembunuh bayaran paling ditakuti yang jiwa-nya dipindahkan ke tubuh seorang wanita buta bernama Mu-deok. Di sana, ia bertemu Jang Uk (Lee Jae-wook), anak keluarga bangsawan yang dianggap tak berbakat sihir. Mu-deok menjadi pelayannya sekaligus guru rahasia, melatihnya menjadi penyihir hebat sambil menyembunyikan identitas aslinya. Alur penuh twist: dari romansa yang tumbuh pelan, pengkhianatan politik, hingga pertarungan melawan kekuatan gelap yang mengancam Daeho.
Bagian kedua, berjudul Light and Shadow, berlangsung tiga tahun kemudian dengan Go Youn-jung sebagai Jin Bu-yeon—yang ternyata terkait erat dengan masa lalu Naksu. Jang Uk kini membawa Ice Stone di tubuhnya, sumber kekuatan sekaligus kutukan. Cerita semakin dalam menyelami tema takdir, penebusan, dan cinta yang melampaui tubuh dan waktu. Hong Sisters pintar membangun dunia magis dengan aturan sihir yang konsisten, meski kadang muncul penjelasan mendadak yang membuat penonton terkejut. Klimaks di bagian akhir menyatukan semua benang merah, memberikan penutup yang memuaskan bagi sebagian besar penggemar, walau tak lepas dari emosi bittersweet.

Performa Aktor dan Chemistry: Review Film Alchemy of Souls: Fantasi Romansa Penyihir

Lee Jae-wook sebagai Jang Uk adalah salah satu alasan utama drama ini begitu dicintai. Dari pemuda sombong yang lemah menjadi pahlawan tragis, ia berhasil menyampaikan rentang emosi yang luas—dari lucu, marah, hingga hancur. Jung So-min di bagian pertama membawa energi liar dan karisma Naksu/Mu-deok yang tak tergantikan; chemistry-nya dengan Lee Jae-wook terasa elektrik, terutama di adegan latihan sihir dan momen romantis yang manis.
Go Youn-jung di bagian kedua menghadapi tantangan besar menggantikan peran utama, tapi ia berhasil menciptakan Jin Bu-yeon sebagai karakter yang berbeda—lebih lembut, misterius, namun tetap kuat. Hwang Min-hyun sebagai Seo Yul, sahabat Jang Uk, juga mencuri perhatian dengan akting halus dan dukungan emosional yang tulus. Ensemble cast seperti Yoo In-soo, Oh Na-ra, dan Jo Jae-yun menambah warna melalui komedi dan konflik sampingan yang pas. Secara keseluruhan, performa mereka membuat dunia Daeho terasa hidup dan relatable meski penuh elemen supranatural.

Visual, Produksi, dan Elemen Fantasi

Salah satu kekuatan terbesar Alchemy of Souls adalah produksinya yang mewah. CGI untuk efek sihir—seperti petir, api, dan pertarungan pedang—terlihat halus dan epik, jarang terasa murahan. Kostum hanbok yang diadaptasi dengan sentuhan fantasi, set desain istana dan desa penyihir, serta lokasi syuting di pegunungan Korea membuat setiap frame seperti lukisan. Penggunaan warna kontras antara cahaya dan bayangan memperkuat tema “light and shadow”.
Musik latar karya Hong Dae-sung juga patut dipuji—dari lagu tema yang menghantui hingga score aksi yang membakar semangat. Adegan pertarungan dirancang dengan koreografi yang dinamis, menggabungkan wuxia dan elemen Korea tradisional. Komedi datang dari interaksi sehari-hari di akademi sihir, seperti saat Mu-deok menggoda Jang Uk atau saat karakter sampingan terlibat kekacauan kecil, yang menyeimbangkan nada gelap cerita tanpa merusak intensitas.

Kesimpulan: Review Film Alchemy of Souls: Fantasi Romansa Penyihir

Alchemy of Souls adalah contoh sempurna bagaimana K-drama fantasi bisa jadi hiburan kelas atas: cerita rumit tapi mudah diikuti, romansa yang berkembang alami, aksi memuaskan, dan akhir yang memberikan penutup emosional. Meski bagian kedua mendapat sedikit kritik karena perubahan pemeran utama, secara keseluruhan serial ini tetap jadi salah satu yang terbaik dalam genre-nya, bahkan di 2026. Bagi yang belum menonton, ini adalah kesempatan emas untuk masuk ke dunia magis Daeho yang penuh keajaiban dan hati. Bagi yang sudah lama fans, rewatch sekarang terasa segar lagi—mengingatkan betapa jarang ada drama yang mampu menyatukan tawa, tangis, dan kekaguman dalam satu paket. Jika Anda mencari fantasi romansa penyihir yang tak terlupakan, Alchemy of Souls masih jadi pilihan utama.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *