review-film-akira

Review Film Akira

Review Film Akira. Akira tetap menjadi salah satu karya animasi paling berpengaruh sepanjang masa sejak rilis pada tahun 1988. Hampir empat dekade kemudian, di awal 2026, ketika dunia semakin sering membahas kekuatan teknologi yang tak terkendali, mutasi genetik, dan dampak korupsi kekuasaan, film ini terasa seperti peringatan yang belum pernah kehilangan kekuatannya. BERITA BOLA

Cerita berlatar Neo-Tokyo tahun 2019, kota yang dibangun kembali setelah ledakan misterius di Olimpiade 1988. Kaneda, seorang pemuda liar pemimpin geng motor, terlibat dalam kekacauan ketika sahabatnya Tetsuo mulai menunjukkan kekuatan psikis yang luar biasa setelah kecelakaan dengan subjek eksperimen pemerintah. Di balik aksi motor yang mendebarkan dan kekerasan brutal, Akira adalah kisah tentang ambisi manusia, kekuatan yang tak terkendali, dan kehancuran yang lahir dari ketakutan serta keserakahan.

Visual dan Animasi yang Masih Menjadi Standar Emas: Review Film Akira

Salah satu alasan terbesar Akira masih terasa segar adalah kualitas animasinya yang luar biasa. Setiap frame dibuat dengan tangan, detail luar biasa, dan pergerakan yang sangat fluid—terutama pada adegan motor chase di jalanan malam Neo-Tokyo yang penuh neon. Warna merah darah, biru listrik, dan oranye ledakan menciptakan kontras yang sangat kuat dan menyayat mata.

Desain kota dystopian-nya—gedung-gedung raksasa yang rusak, jalanan sempit penuh sampah, dan langit yang selalu gelap—masih menjadi referensi utama bagi hampir semua karya cyberpunk modern. Adegan transformasi Tetsuo di akhir film, dengan ledakan energi dan mutasi tubuh yang mengerikan, termasuk salah satu sequence paling ikonik dalam sejarah animasi. Semua elemen visual ini dibuat dengan tangan, tanpa bergantung pada komputer berlebihan, sehingga terasa sangat organik dan timeless.

Atmosfer yang kacau, penuh paranoia, dan penuh kekerasan membuat penonton ikut merasakan ketegangan yang memburuk sepanjang cerita.

Karakter dan Performa yang Sangat Kuat: Review Film Akira

Karakter utama Kaneda dan Tetsuo menjadi pusat emosional film ini. Kaneda adalah pemuda pemberontak yang cuek tapi setia, sementara Tetsuo adalah sosok yang rapuh, penuh amarah, dan akhirnya hancur karena kekuatan yang tidak bisa dia kendalikan. Konflik persahabatan mereka yang berubah menjadi pertarungan hidup-mati terasa sangat manusiawi dan menyakitkan.

Karakter pendukung seperti Kay, pemimpin kelompok pemberontak, dan para ilmuwan pemerintah memberikan dimensi tambahan tentang korupsi kekuasaan dan eksperimen tanpa etika. Semua karakter terasa seperti manusia nyata yang terjebak dalam sistem yang sudah rusak—tidak ada yang benar-benar baik atau jahat sepenuhnya, hanya mereka yang berjuang bertahan.

Dialog yang tajam, sarkastik, dan penuh slang pemuda membuat interaksi antar karakter terasa hidup dan autentik.

Tema yang Semakin Relevan di Era Sekarang

Di balik kekerasan dan visual yang memukau, Akira mengajukan pertanyaan besar tentang kekuatan yang tak terkendali. Apa yang terjadi kalau manusia menciptakan sesuatu yang melebihi kendalinya sendiri? Apakah ambisi ilmiah dan militer selalu berakhir dengan kehancuran? Film ini juga menyentuh isu mutasi genetik, korupsi pemerintah, dan bagaimana masyarakat muda yang terpinggirkan bisa menjadi bom waktu.

Di awal 2026, ketika kita semakin sering membahas eksperimen genetika, kecerdasan buatan yang tak terkendali, dan dampak kekuasaan absolut, tema Akira terasa sangat menyakitkan sekaligus sangat tepat. Film ini tidak memberikan jawaban mudah—ia hanya menunjukkan bahwa ketika manusia bermain-main dengan kekuatan yang terlalu besar, akibatnya hampir selalu kehancuran total.

Kesimpulan

Akira adalah film yang berhasil menggabungkan aksi brutal, visual revolusioner, dan pertanyaan filosofis yang sangat dalam tanpa kehilangan keseimbangan. Ia tidak sekadar menghibur—ia memaksa penonton merenung tentang ambisi manusia, kekuatan yang tak terkendali, dan harga yang harus dibayar ketika kita mencoba menjadi dewa.

Di tahun 2026, ketika dunia semakin dekat dengan teknologi yang bisa mengubah tubuh dan pikiran manusia, Akira terasa seperti cermin yang jujur dan tidak nyaman. Ia mengingatkan bahwa kekuatan besar selalu datang dengan risiko besar, dan manusia sering kali tidak siap menghadapi konsekuensinya.

Bagi penggemar sci-fi yang suka cerita dengan makna lebih dalam, Akira tetap salah satu karya paling penting yang pernah dibuat. Ia mungkin punya beberapa elemen yang terasa kuno bagi standar sekarang, tapi justru ketajaman temanya itulah yang membuatnya abadi. Film ini bukan tentang masa depan yang jauh—ia tentang apa yang sudah mulai kita ciptakan sekarang, dan apa yang mungkin terjadi kalau kita tidak berhati-hati.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *