Review Film Our Souls at Night. Our Souls at Night tetap menjadi salah satu film paling lembut dan menyentuh tentang cinta di usia senja yang pernah dibuat. Dirilis pada 2017 sebagai adaptasi novel Kent Haruf, karya Ritesh Batra ini berhasil menangkap esensi hubungan yang tumbuh dari kesepian menjadi kehangatan tanpa terburu-buru atau dramatis berlebihan. Cerita berpusat pada Addie Moore dan Louis Waters, dua tetangga lansia di kota kecil Colorado yang sudah saling mengenal selama puluhan tahun tapi belum pernah benar-benar dekat. Suatu malam, Addie mengetuk pintu Louis dengan tawaran sederhana: tidur bersama setiap malam—bukan untuk seks, melainkan untuk mengusir kesepian. Dari situ dimulai hubungan yang perlahan, penuh kehati-hatian, tapi semakin dalam. Film ini tidak mengejar konflik besar atau akhir bahagia yang dipaksakan; ia lebih tentang bagaimana dua orang yang sudah kehilangan banyak hal menemukan kembali rasa nyaman dan makna melalui kehadiran satu sama lain. BERITA BOLA
Penampilan Jane Fonda dan Robert Redford yang Penuh Kehangatan: Review Film Our Souls at Night
Jane Fonda sebagai Addie Moore memberikan penampilan yang sangat terkendali dan penuh keberanian. Ia memerankan seorang janda yang sudah lama hidup sendirian dengan cara yang tenang tapi tegas—ia tidak lagi takut menunjukkan keinginan sederhana untuk tidak tidur seorang diri. Fonda berhasil menunjukkan lapisan-lapisan emosi: rasa malu kecil saat pertama kali mengajak Louis, kekhawatiran saat hubungan mereka mulai diketahui tetangga, dan kelembutan yang semakin terbuka seiring waktu. Tatapan matanya saat berbaring di samping Louis, atau senyum tipis saat mendengar cerita masa lalu, terasa sangat autentik dan menyentuh.
Robert Redford sebagai Louis Waters adalah pasangan yang sempurna: pria tua yang pendiam, masih menyimpan luka dari masa lalu (termasuk kematian anaknya), tapi perlahan membuka diri. Redford membawa ketenangan khasnya—gerakan lambat, suara serak yang hangat, dan senyum yang jarang tapi sangat berarti. Interaksi keduanya terasa seperti pasangan sungguhan yang sudah lama mengenal satu sama lain: percakapan malam tentang masa lalu, keheningan yang nyaman, dan momen kecil seperti berjalan bersama atau berbagi cerita anak. Chemistry mereka tidak bergantung pada gairah muda; justru karena usia dan pengalaman yang membuat kedekatan itu terasa sangat tulus dan dewasa.
Narasi yang Lambat tapi Penuh Kepekaan: Review Film Our Souls at Night
Film ini mengambil ritme yang sangat lambat dan sengaja—hampir tidak ada musik latar yang memaksa emosi, hanya suara angin, langkah kaki, dan percakapan sehari-hari. Setiap adegan terasa seperti potret kehidupan nyata: Addie dan Louis berbaring berdampingan sambil berbicara tentang anak mereka, menghadapi penilaian tetangga, atau menjemput cucu Louis yang datang berkunjung. Tidak ada konflik besar atau plot twist; ketegangan muncul dari hal-hal kecil—tatapan tetangga yang menghakimi, pertengkaran ringan dengan anak, atau momen ketika Addie mulai lupa hal-hal kecil karena usia.
Penggambaran hubungan mereka sangat realistis: tidak ada ciuman dramatis atau pengakuan cinta besar-besaran. Cinta di sini tumbuh dari kebiasaan—berbagi tempat tidur, mendengarkan cerita satu sama lain, dan saling menjaga tanpa perlu kata-kata manis. Film ini juga menyentuh tema penerimaan di usia tua: keduanya sudah tahu waktu mereka terbatas, tapi memilih untuk menikmati hari-hari yang tersisa dengan cara yang paling sederhana dan jujur.
Dampak Emosional dan Pesan yang Abadi
The Leisure Seeker tidak memaksa penonton menangis dengan adegan besar. Emosinya datang perlahan, dari akumulasi momen kecil yang terasa sangat nyata: senyum Addie saat Louis menggenggam tangannya, tatapan Louis yang penuh penyesalan saat mengenang masa lalu, atau saat keduanya duduk diam di teras sambil memandang bintang. Akhir film yang terbuka namun penuh kedamaian—tanpa resolusi dramatis—meninggalkan rasa hangat yang lama tertinggal.
Pesan utama film ini adalah tentang cinta yang datang di saat yang tidak terduga dan bertahan meski tubuh sudah lemah. Ia mengingatkan bahwa di usia senja, yang paling berharga bukan kesehatan sempurna atau petualangan besar, melainkan kehadiran satu sama lain dan kemampuan untuk tetap saling menjaga. Film ini juga menyentuh tema kesepian yang sering dialami lansia dan bagaimana hubungan baru—bahkan di usia tua—bisa membawa kehangatan yang lama hilang. Di tengah banyak film tentang penuaan yang dramatis atau menghibur, Our Souls at Night memilih jalan yang lebih tenang tapi jauh lebih menyentuh.
Kesimpulan
Our Souls at Night adalah film yang sederhana tapi sangat dalam dalam menggambarkan cinta di usia senja, kesepian, dan keberanian membuka hati lagi. Penampilan luar biasa Jane Fonda dan Robert Redford, ditambah naskah yang penuh kepekaan serta penyutradaraan Ritesh Batra yang penuh perhatian, membuat film ini tetap relevan hingga sekarang. Ia tidak menawarkan akhir bahagia yang dipaksakan atau drama berlebihan; sebaliknya, ia memberikan potret realistis tentang bagaimana dua orang tua menemukan kembali kehangatan melalui kebersamaan sederhana. Di tengah dunia yang sering mengabaikan penuaan dan kesepian, film ini mengingatkan kita untuk menghargai waktu bersama orang terkasih sebelum terlambat—karena ketika malam tiba, yang paling berarti adalah memiliki seseorang di sisi kita. Our Souls at Night bukan sekadar cerita tentang dua lansia—ia adalah pengingat lembut bahwa cinta bisa datang kembali, bahkan di saat kita sudah yakin malam akan selalu sepi.

