Review Film Mariposa. Film Mariposa yang dirilis pada 2020 kembali hangat dibicarakan di awal 2026. Adaptasi novel populer karya Luluk HF ini sering ditayangkan ulang di platform digital, membangkitkan nostalgia romansa kampus yang manis sekaligus getir. Saat pertama tayang di tengah pandemi, film ini berhasil menarik lebih dari 1 juta penonton secara daring dan luring, menjadikannya salah satu drama remaja Indonesia terlaris tahun itu. Kini, kisah Acha yang naksir berat pada Iqbal masih relatable, terutama bagi generasi muda yang pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. BERITA BOLA
Plot dan Karakter Utama: Review Film Mariposa
Cerita mengikuti Acha, mahasiswi cerdas dan populer di kampus yang tergila-gila pada Iqbal, cowok dingin dan cuek anggota geng motor. Acha melakukan segala cara untuk mendekati Iqbal, dari ikut kegiatan ekstrakurikuler hingga bantu tugas kuliah, tapi Iqbal tetap acuh. Konflik memuncak saat Natasha, gadis cantik dan percaya diri, muncul sebagai saingan, sementara Acha perlahan belajar menghargai diri sendiri. Di balik penolakan, ada rahasia Iqbal yang membuat sikapnya begitu tertutup.
Angga Yunanda memerankan Iqbal dengan karisma cool yang pas, membuat penonton ikut kesal sekaligus kasihan. Adhisty Zara sebagai Acha tampil energik dan relatable sebagai cewek yang nekat demi cinta. Dannia Salsabilla sebagai Natasha membawa aura percaya diri, didukung Abun Sungkar, Junior Roberts, dan Ariyo Wahab sebagai dosen. Chemistry Acha dan Iqbal terbangun perlahan, membuat penonton deg-degan menanti akhir yang tak terduga.
Elemen Romantis dan Realistis: Review Film Mariposa
Mariposa unggul dalam menggambarkan cinta tak berbalas yang sering dialami remaja, tanpa terlalu manis atau dramatis berlebih. Nuansa kampus terasa hidup melalui adegan kuliah, organisasi mahasiswa, dan nongkrong bareng teman. Tema self-love jadi pesan kuat, menunjukkan bahwa mencintai diri sendiri lebih penting daripada memaksakan perasaan pada orang yang tak menghargai.
Disutradarai Fajar Bustomi, film ini menyajikan tempo mengalir dengan dialog remaja yang natural dan mudah diingat. Visual kampus di Bandung memberikan nuansa segar, diperkuat soundtrack menyentuh yang mendukung emosi Acha dari euforia hingga kekecewaan. Elemen ini membuat cerita terasa dekat, seperti potret kehidupan mahasiswa nyata.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena performa Angga Yunanda dan Adhisty Zara yang hidup, pesan self-love yang empowering, serta representasi cinta tak sehat yang realistis. Banyak penonton terharu dengan perkembangan karakter Acha, plus humor ringan dari geng teman yang menyeimbangkan drama. Kesuksesan di masa pandemi membuktikan daya tariknya sebagai escapism romantis.
Di sisi lain, beberapa kritik bilang karakter Iqbal terlalu cuek hingga kurang empati, membuat sebagian penonton frustrasi. Konflik kadang terasa berulang, dan resolusi agak cepat bagi yang mengharapkan drama lebih mendalam. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi kesan sebagai romansa remaja berkualitas.
Kesimpulan
Mariposa tetap jadi salah satu romansa kampus Indonesia yang abadi di awal 2026 ini. Kisah Acha mengingatkan bahwa cinta tak harus dipaksakan, dan kebahagiaan sejati dimulai dari menghargai diri sendiri. Dengan akting memikat, pesan kuat, dan nuansa relatable, film ini layak ditonton ulang bagi yang pernah naksir berat atau ingin nostalgia masa kuliah. Secara keseluruhan, ini adalah drama manis yang berhasil campur aduk haru dan pelajaran hidup, cocok untuk generasi muda yang sedang belajar tentang cinta dan harga diri.

