Review Film Predator Badlands: Perjalanan Dek Predator Muda

Review Film Predator Badlands: Perjalanan Dek Predator Muda

Review Film Predator Badlands: Perjalanan Dek Predator Muda. Predator: Badlands tayang di bioskop pada 7 November 2025, menjadi entri ketujuh dalam franchise Predator dan yang kedua di tahun itu setelah Prey serta Killer of Killers. Disutradarai Dan Trachtenberg, yang sukses dengan Prey, film berdurasi sekitar 107 menit ini mengambil pendekatan segar dengan menjadikan Predator sebagai protagonis utama. Dibintangi Dimitrius Schuster-Koloamatangi sebagai Dek, Predator muda yang diusir dari klannya, dan Elle Fanning sebagai Thia, android Weyland-Yutani yang rusak, cerita berlatar planet terpencil Genna di masa depan. Dengan skor Rotten Tomatoes Certified Fresh sekitar 86-90% dari kritikus dan pujian atas aksi serta world-building, film ini berhasil mengubah Yautja dari monster pemburu menjadi karakter yang bisa di-rooting. Meski PG-13 membuatnya lebih ramah keluarga dan kurang gore dibanding original, Badlands tetap thrilling sebagai petualangan survival dengan sentuhan buddy adventure yang menghibur. BERITA TERKINI

Alur Cerita dan Plot: Review Film Predator Badlands: Perjalanan Dek Predator Muda

Cerita berfokus pada Dek, Predator muda yang dianggap lemah oleh ayah dan klannya karena gagal dalam ujian tradisional, bahkan menyebabkan kematian saudaranya. Diusir dari rumah, ia dikirim ke planet Genna—dikenal sebagai “planet of death”—untuk membuktikan diri dengan membunuh apex predator legendaris Kalisk. Dek crash-land di sana dan memulai perjalanan berbahaya, menghadapi makhluk ganas, tanaman mematikan, serta ancaman dari sintetik Weyland-Yutani. Di tengah perjalanan, ia bertemu Thia (Elle Fanning), android rusak yang terjebak dan punya agenda sendiri. Mereka membentuk aliansi tak terduga—Thia membantu navigasi dan teknologi, sementara Dek melindungi dengan skill berburu. Ada momen buddy dynamic yang lucu, seperti interaksi dengan makhluk kecil bernama Bud yang menambah charm. Plot mengikuti pola hero’s journey: Dek belajar tentang nilai keberanian sejati, empati, dan warisan klan, sambil menghadapi musuh yang lebih besar. Ada elemen eksplorasi reruntuhan, pertarungan epik, dan twist tentang identitas serta tujuan. Meski predictable di beberapa bagian dan pacing tengah agak lambat, klimaksnya intens dengan aksi besar dan resolusi yang memuaskan, membuka potensi sekuel sambil menghormati lore franchise.

Pemeran dan Penampilan: Review Film Predator Badlands: Perjalanan Dek Predator Muda

Dimitrius Schuster-Koloamatangi sebagai Dek memberikan debut impresif melalui motion-capture. Ia menyampaikan emosi Predator muda—keraguan, tekad, dan pertumbuhan—tanpa dialog verbal berlebih, mengandalkan gerakan, suara growl, dan ekspresi mata yang detail. Ini membuat Dek terasa relatable dan simpatik, berbeda dari Predator biasa yang dingin. Elle Fanning sebagai Thia menonjol dengan peran android yang damaged tapi witty—ia membawa humor, kerentanan, dan chemistry hangat dengan Dek, membuat aliansi mereka terasa autentik dan menyenangkan. Pemeran pendukung seperti Ravi Narayan dan lainnya menambah warna, tapi fokus utama pada duo protagonis. Motion-capture dari Weta FX luar biasa—detail bulu, armor, dan gerak Predator terasa hidup, sementara desain makhluk planet Genna mengingatkan Avatar dengan sentuhan Dune. Visual stunning, sinematografi indah menangkap lanskap berbahaya, dan score mendukung nada adventure tanpa kehilangan ketegangan.

Elemen Petualangan dan Evolusi Predator

Film ini menonjol karena menjadikan Predator sebagai hero muda yang belajar empati dan keberanian, bukan sekadar pembunuh dingin. Perjalanan Dek penuh aksi—pertarungan melawan beast besar, chase di hutan beracun, dan showdown klimaks—tapi juga punya momen heartfelt tentang chosen family dan self-worth. Ada humor dari interaksi Dek-Thia dan Bud, membuatnya lebih light-hearted dibanding entry sebelumnya. Elemen survival dan world-building kuat: planet Genna penuh flora-fauna mematikan, reruntuhan manusia, dan ancaman sintetik. Kritik soal PG-13 yang kurangi gore terasa valid bagi purist, tapi film tetap deliver action thrilling dan efek visual top-tier. Secara keseluruhan, ini evolusi franchise yang berani—mengubah Predator dari villain jadi underdog yang bisa di-rooting—sambil tetap setia pada tema hunt dan honor.

Kesimpulan

Predator: Badlands adalah tambahan segar dan entertaining untuk franchise, dengan perjalanan Dek sebagai Predator muda yang penuh pertumbuhan, aksi intens, dan chemistry tak terduga bersama Thia. Dan Trachtenberg berhasil membawa petualangan epik yang visual memukau dan emosional, meski kurang brutal dibanding original. Bagi penggemar yang suka sci-fi action dengan sentuhan buddy adventure, ini jadi tontonan wajib di bioskop. Skor keseluruhan: 8/10—perjalanan Dek yang menghibur dan membuka jalan baru untuk Predator, membuktikan franchise ini masih punya banyak potensi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *