Review Film Ronin. Film Ronin yang dirilis pada 1998 kembali menjadi perbincangan di akhir 2025 ini, terutama setelah sering disebut sebagai salah satu thriller mata-mata paling realistis dan berpengaruh. Disutradarai oleh John Frankenheimer, film ini dibintangi Robert De Niro sebagai Sam, mantan agen rahasia yang pimpin tim mercenary untuk rebut koper misterius di Eropa. Dengan durasi sekitar 122 menit, Ronin dikenal karena aksi kejar-kejaran mobil legendaris, dialog tajam, dan nuansa dingin pasca-Perang Dingin. Meski saat rilis pendapatan sekitar 70 juta dolar, hingga kini film ini jadi cult classic bagi penggemar genre spy yang lebih suka realisme daripada gadget berlebih. BERITA BOLA
Tim Mercenary dan Konflik Internal: Review Film Ronin
Ronin mengikuti sekelompok mantan agen dari berbagai negara yang direkrut misterius oleh Deirdre yang diperankan Natascha McElhone untuk rebut koper dari sindikat Rusia. Tim termasuk Vincent (Jean Reno) yang tenang, Gregor (Stellan Skarsgård) yang licik, Spence (Sean Bean) yang ceroboh, dan Larry (Skipp Sudduth) yang spesialis senjata. Sam, dengan pengalaman CIA, jadi pemimpin de facto yang curiga pada semua orang. Alur penuh pengkhianatan—siapa yang setia, siapa yang jual informasi—dengan koper yang isinya tak pernah diungkap jelas, simbol McGuffin klasik. Konflik internal jadi inti: kepercayaan rapuh di antara ronin (samurai tanpa tuan), membuat setiap rencana ambil koper di Nice, Paris, dan Arles penuh ketegangan psikologis. Cerita soroti dunia pasca-Perang Dingin di mana agen lama jadi tentara bayaran tanpa ideologi.
Kejar-kejaran Mobil yang Legendaris: Review Film Ronin
Kekuatan terbesar Ronin ada pada sequence aksi mobil yang masih jadi benchmark hingga kini. Kejar-kejaran di jalan sempit Nice dan melalui terowongan Paris dirancang stunt driver profesional, dengan kecepatan nyata hingga 160 km/jam tanpa CGI berat. Mobil seperti Audi S8 dan Peugeot 406 tabrak-tabrakan brutal, terbalik, dan tembak-menembak sambil ngebut, ciptakan rasa bahaya autentik. Frankenheimer, veteran film seperti The French Connection, gunakan kamera di dalam mobil dan wide shot untuk tangkap chaos lalu lintas Eropa. Adegan ini bukan sekadar aksi, tapi integrasi dengan plot—setiap chase punya tujuan strategis, seperti rebut koper atau hindari pembunuh bayaran. Musik Elia Cmiral yang tegang tingkatkan pulse, membuat penonton merasa ikut di kursi pengemudi.
Penampilan Aktor dan Nuansa Realistis
Robert De Niro tampil prima sebagai Sam—dingin, metodis, tapi punya kode etik pribadi—dengan chemistry kuat bersama Jean Reno yang hangat sebagai Vincent, jadi duo paling solid di tim. Natascha McElhone berikan Deirdre yang cerdas dan tegas, sementara Stellan Skarsgård curi adegan sebagai Gregor yang oportunis. Dialog tajam penuh sarkasme tentang profesi ronin—”Apa kau pernah bunuh orang?” “Ya.” “Gimana rasanya?” “Seperti jatuh cinta”—tambah kedalaman tanpa eksposisi berlebih. Film ini hindari romansa klise atau gadget futuristik, fokus pada skill manusiawi seperti pengintaian, tembak jarak jauh, dan improvisasi di lapangan. Lokasi Prancis yang autentik—dari kafe Paris hingga desa Provence—beri nuansa Eropa yang hidup dan dingin, perkuat tema agen tanpa negara.
Kesimpulan
Ronin tetap jadi spy thriller klasik yang timeless, dengan aksi mobil tak tertandingi, penampilan kuat De Niro-Reno, serta potret realistis dunia mercenary pasca-Perang Dingin. Meski plot sederhana dan beberapa twist bisa ditebak, kekuatan utamanya ada pada eksekusi presisi Frankenheimer dan rasa paranoia yang subtil. Di era spy film sering bergantung efek digital, karya ini terasa segar sebagai pengingat bahwa ketegangan sejati datang dari manusia dan mobil ngebut di jalan sempit. Layak ditonton ulang bagi penggemar genre yang suka aksi grounded dengan dialog cerdas dan akhir pahit-manis yang memuaskan.

