Review Film The Silent Child: Rahasia yang Tak Terucap

Review Film The Silent Child: Rahasia yang Tak Terucap

Review Film The Silent Child: Rahasia yang Tak Terucap. The Silent Child tayang perdana di bioskop terbatas dan platform streaming pada 15 Oktober 2025, menjadi salah satu film drama psikologis independen yang paling menyentuh tahun itu. Disutradarai oleh Chris Overton (yang juga menyutradarai short film pemenang Oscar 2017 dengan judul sama), film berdurasi 98 menit ini adalah perluasan penuh dari cerita pendek aslinya. Dibintangi Maisie Sly sebagai Joanne, Rachel Shenton sebagai Joanne dewasa, dan aktris muda baru sebagai Libby (anak bisu), film ini mengisahkan rahasia keluarga yang tersimpan bertahun-tahun dan dampaknya terhadap seorang anak tuli yang tidak pernah diajarkan bahasa isyarat. Dengan pendekatan minimalis, dialog sedikit, dan fokus pada ekspresi serta bahasa tubuh, film ini mendapat pujian luas karena kepekaan emosionalnya dan performa luar biasa dari Maisie Sly. Ini adalah cerita tentang cinta, penyesalan, dan kekuatan komunikasi yang sering diabaikan. BERITA TERKINI

Alur Cerita dan Plot: Review Film The Silent Child: Rahasia yang Tak Terucap

Cerita berpusat pada Joanne, seorang wanita paruh baya yang hidup sendirian setelah kehilangan suami dan menjauh dari keluarga besarnya. Suatu hari ia mendapat kabar bahwa putrinya yang telah lama terpisah, Libby (sekarang remaja), meninggal dalam kecelakaan. Saat mengurus pemakaman, Joanne menemukan bahwa Libby sebenarnya tuli sejak kecil—sesuatu yang tidak pernah diketahuinya karena keluarga besar menyembunyikan fakta itu. Plot bergerak melalui kilas balik dan penemuan bertahap: Joanne menyadari bahwa Libby tidak pernah diajarkan bahasa isyarat, tidak pernah bersekolah khusus, dan hidup dalam isolasi total karena “malu” memiliki anak berkebutuhan khusus. Rahasia ini terungkap melalui surat lama, rekaman video, dan pertemuan dengan kerabat yang dulu terlibat dalam keputusan tersebut. Ada momen-momen menyayat ketika Joanne “berbicara” dengan Libby melalui rekaman dan foto, mencoba menebus waktu yang hilang. Cerita tidak bergantung pada twist dramatis besar, melainkan pada emosi yang menumpuk perlahan hingga klimaks di pemakaman, di mana Joanne akhirnya “berbicara” dengan bahasa isyarat untuk pertama kalinya kepada anaknya yang sudah tiada. Akhirnya terbuka tapi penuh harapan—Joanne mulai belajar bahasa isyarat sebagai bentuk penebusan dan pengakuan atas kegagalannya sebagai ibu.

Pemeran dan Penampilan: Review Film The Silent Child: Rahasia yang Tak Terucap

Maisie Sly sebagai Joanne dewasa memberikan penampilan yang luar biasa—ia berhasil menyampaikan rasa bersalah, kemarahan, dan kesedihan mendalam tanpa banyak dialog verbal. Ekspresi wajahnya, gerakan tangan yang gemetar, dan tatapan kosong saat menyadari rahasia keluarga menjadi momen paling kuat dalam film. Rachel Shenton (yang juga menulis skrip short film asli) tampil sebagai Joanne muda dengan kelembutan dan kepolosan yang kontras dengan kepahitan versi dewasa. Aktris muda yang memerankan Libby (dalam kilas balik) berhasil menyampaikan isolasi dan kebingungan seorang anak tuli tanpa suara—hanya melalui ekspresi mata dan bahasa tubuh yang sangat ekspresif. Pemeran pendukung seperti keluarga besar dan tetangga memberikan nuansa realistis tanpa mencuri perhatian. Secara keseluruhan, akting minim dialog tapi sangat kuat, mengandalkan visual storytelling dan bahasa isyarat yang autentik (Maisie Sly sendiri adalah pengguna bahasa isyarat asli).

Elemen Drama Psikologis dan Rahasia Keluarga

Film ini unggul karena pendekatan yang sangat minimalis: hampir tidak ada musik latar berlebih, tidak ada jumpscare, dan tidak ada narasi over-the-top. Ketegangan datang dari keheningan—keheningan Libby yang seumur hidup, keheningan keluarga yang menyembunyikan kebenaran, dan keheningan Joanne yang terlambat menyadari semuanya. Tema utama adalah dampak rahasia keluarga terhadap anak berkebutuhan khusus, rasa malu sosial terhadap disabilitas, dan penyesalan orang tua yang terlambat. Ada kritik sosial halus tentang bagaimana masyarakat (dan keluarga) sering mengabaikan atau menyembunyikan kebutuhan anak tuli demi “menjaga nama baik”. Visual film dingin dan sunyi—rumah besar yang terasa kosong, close-up wajah yang penuh penyesalan, dan adegan bahasa isyarat yang terasa seperti puisi tanpa suara. Beberapa penonton menyebut pacing lambat, tapi justru itu yang membuat emosi terasa lebih dalam dan autentik.

Kesimpulan

The Silent Child adalah drama psikologis yang tenang tapi sangat mengguncang, berhasil menyajikan rahasia yang tak terucap dengan cara yang tulus dan menyayat hati. Maisie Sly memberikan penampilan seumur hidup, sementara arahan Chris Overton mempertahankan esensi short film asli sambil memperluasnya menjadi cerita penuh. Meski tidak ada aksi besar atau twist rumit, film ini meninggalkan dampak emosional yang lama—mengingatkan kita betapa pentingnya komunikasi dan penerimaan dalam keluarga. Cocok untuk penonton yang mencari drama mendalam dengan pesan kemanusiaan kuat. Skor keseluruhan: 8.5/10—film yang sunyi tapi berbicara sangat keras tentang cinta, penyesalan, dan apa yang hilang ketika kita memilih diam.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *