Review Film Thunderbolts: Suicide Squad Versi Marvel? Film Thunderbolts* yang tayang sejak Mei 2025 langsung jadi salah satu rilis MCU paling kontroversial dan dibicarakan tahun itu. Disebut sebagai “Suicide Squad versi Marvel”, film ini kumpulkan sekelompok anti-hero dan villain yang dipaksa kerja sama oleh pemerintah: Yelena Belova (Florence Pugh), Bucky Barnes (Sebastian Stan), Red Guardian (David Harbour), Ghost (Hannah John-Kamen), Taskmaster (Olga Kurylenko), U.S. Agent (Wyatt Russell), dan Valentina Allegra de Fontaine (Julia Louis-Dreyfus) sebagai handler mereka. Disutradarai Jake Schreier, film berdurasi 2 jam 6 menit dengan budget US$200 juta ini sudah meraup lebih dari US$680 juta global hingga Januari 2026. Rating Rotten Tomatoes 78% kritikus dan 85% penonton, CinemaScore B+. Pertanyaannya: apakah Thunderbolts* benar-benar jadi Suicide Squad-nya Marvel, atau cuma tim anti-hero biasa dengan chemistry yang kurang meledak? BERITA VOLI
Kekuatan Aksi dan Tone yang Lebih Gelap di Film Thunderbolts: Review Film Thunderbolts: Suicide Squad Versi Marvel?
Thunderbolts* berhasil bawa tone MCU yang lebih gelap dan dewasa dibanding film superhero biasa. Aksi film ini brutal dan realistis—pertarungan tangan kosong, tembak-menembak, dan penggunaan senjata improvisasi terasa mentah dan berdarah. Florence Pugh sebagai Yelena Belova mencuri perhatian dengan performa yang dingin, sarkastis, tapi punya luka dalam—ia jadi jantung emosional tim. Sebastian Stan sebagai Bucky Barnes bawa sisi broken soldier yang relatable, sementara David Harbour sebagai Red Guardian jadi sumber komedi yang pas tanpa berlebihan. Adegan klimaks di markas rahasia Valentina penuh chaos dan kekerasan yang bikin penonton tegang—setiap karakter punya momen heroik sendiri, tapi juga tunjukkan sisi egois dan rusak mereka. Musik Christophe Beck dan Henry Jackman bawa nuansa thriller gelap dengan beat elektronik dan string tegang yang pas. Visualnya juga solid—efek CGI untuk Ghost dan Taskmaster terasa mulus, dan lokasi syuting di Eropa Timur bikin suasana dingin dan mencekam.
Performa Cast dan Chemistry Tim dari Film Thunderbolts: Review Film Thunderbolts: Suicide Squad Versi Marvel?
Florence Pugh sebagai Yelena jadi bintang utama—ia bawa campuran humor hitam, trauma, dan kekuatan yang bikin karakter ini terasa hidup. David Harbour sebagai Red Guardian kembali jadi sumber tawa dengan aksen Rusia tebal dan sikap “ayah gagal” yang lucu. Sebastian Stan sebagai Bucky punya chemistry bagus dengan Pugh—mereka seperti saudara yang saling sindir tapi saling lindung. Wyatt Russell sebagai U.S. Agent bawa sisi antagonis yang kompleks, sementara Hannah John-Kamen dan Olga Kurylenko beri kedalaman pada Ghost dan Taskmaster. Julia Louis-Dreyfus sebagai Valentina jadi villain manipulatif yang menyenangkan—ia curi setiap adegan dengan dialog tajam dan senyum licik. Chemistry tim terasa organik—mereka saling benci tapi terpaksa kerja sama, mirip Suicide Squad tapi dengan rasa “Marvel family” yang lebih ringan. Humornya gelap dan sarkastis, cocok untuk penonton dewasa yang bosan dengan MCU yang terlalu cerah.
Kelemahan Cerita dan Perbandingan dengan Suicide Squad
Meski aksi dan chemistry kuat, cerita terasa agak tipis dan predictable. Plot “tim anti-hero dipaksa kerja sama” sudah sering dipakai (Suicide Squad, Guardians of the Galaxy, The Suicide Squad 2021), dan twist akhirnya tak terlalu mengejutkan. Beberapa subplot (seperti backstory Taskmaster dan Ghost) terasa kurang dieksplorasi dan terburu-buru. Pacing di babak tengah agak lambat karena terlalu banyak dialog internal tim. Dibandingkan The Suicide Squad (2021) yang punya gore dan humor ekstrem, Thunderbolts* terasa lebih “aman” karena rating PG-13—kekerasannya brutal tapi tak se-grafis itu. Ada juga kritik bahwa film ini terlalu bergantung pada nama besar John Wick-style action tanpa cukup inovasi. Tapi secara keseluruhan, kekurangan ini tak ganggu—film tetap menghibur dan punya hati.
Respon Penonton dan Dampak ke MCU
Penonton Indonesia suka banget—film ini laris di bioskop premium dan Disney+ Hotstar, dengan banyak diskusi soal chemistry tim dan aksi brutal. Box office US$680 juta (dengan proyeksi akhir US$850–950 juta) tunjukkan sukses komersial. Di media sosial, klip Yelena vs Valentina dan adegan tim berantem jadi viral. Film ini juga bukti bahwa MCU bisa sukses dengan tone dewasa dan tim anti-hero. Banyak yang bilang ini “Suicide Squad versi Marvel yang lebih baik”—kurang gore tapi lebih emosional dan punya chemistry tim yang lebih kuat. Sekuel atau spin-off sudah diumumkan untuk 2028, dengan rumor tambah Sentry dan US Agent lebih besar.
Kesimpulan
Thunderbolts* adalah spin-off MCU yang brutal, emosional, dan punya chemistry mematikan antar karakter. Florence Pugh dan Miles Teller (eh, Sebastian Stan) bawa tim anti-hero yang rusak tapi relatable, aksi realistis, dan tone gelap bikin film ini layak ditonton. Meski cerita agak tipis dan pacing tengah lambat, film ini tetap jadi salah satu produksi Marvel terbaik 2025 yang berhasil keluar dari formula superhero cerah. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka John Wick, Suicide Squad, atau tim villain yang dipaksa jadi hero. Kalau suka adegan action brutal dan chemistry tim yang gelap, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan popcorn dan mata terbuka lebar, karena Thunderbolts* bikin MCU terasa lebih dewasa dan menarik lagi. Marvel lagi on fire dengan seri anti-hero seperti ini—semoga terus bertambah!

