Review Film Train to Busan: Zombie Korea Terbaik?

Review Film Train to Busan: Zombie Korea Terbaik?

Review Film Train to Busan: Zombie Korea Terbaik? Sepuluh tahun setelah tayang perdana pada Agustus 2016, Train to Busan (부산행) masih sering disebut-sebut sebagai film zombie Korea terbaik sepanjang masa—bahkan banyak yang menganggapnya salah satu zombie movie terbaik di dunia. Karya sutradara Yeon Sang-ho ini bukan hanya sukses besar di box office dengan lebih dari 11,5 juta penonton di Korea Selatan dan pendapatan global melebihi US$ 98 juta, tapi juga mendapat pujian kritis yang luar biasa. Dengan rating 95% di Rotten Tomatoes dari kritikus dan 89% dari penonton, film ini berhasil menggabungkan ketegangan survival zombie klasik dengan emosi keluarga yang dalam, sesuatu yang jarang berhasil dieksekusi dengan baik di genre ini. Di tengah banjir film zombie yang terasa repetitif, Train to Busan tetap terasa segar dan meninggalkan kesan emosional yang kuat hingga sekarang. BERITA BOLA

Kekuatan Narasi dan Karakter yang Menyentuh: Review Film Train to Busan: Zombie Korea Terbaik?

Cerita berpusat pada Seok-woo, seorang ayah yang terlalu sibuk bekerja dan jarang meluangkan waktu untuk putrinya, Su-an. Saat mereka naik kereta KTX dari Seoul ke Busan untuk merayakan ulang tahun Su-an, wabah zombie tiba-tiba meledak. Dari sinilah film berubah menjadi perjalanan survival intens di dalam kereta berkecepatan tinggi yang terbatas ruang geraknya. Yang membuat Train to Busan berbeda dari kebanyakan zombie movie adalah fokusnya pada hubungan ayah-anak. Gong Yoo membawakan Seok-woo dengan lapisan emosi yang sangat manusiawi: dari pria dingin dan egois di awal, hingga ayah yang rela berkorban segalanya demi putrinya. Ma Dong-seok sebagai Sang-hwa juga mencuri perhatian dengan karakter “penjaga” yang tangguh tapi penuh kasih sayang terhadap istri hamilnya. Kim Su-an (diperankan oleh Kim Su-an) memberikan penampilan anak kecil yang luar biasa natural—air matanya di adegan akhir masih jadi salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah film zombie. Konflik antarpenumpang juga ditulis dengan cerdas: karakter antagonis seperti CEO egois (Kim Eui-sung) dan remaja bandel (Choi Woo-shik) menambah lapisan sosial yang relevan—keserakahan, kepanikan, pengorbanan diri, dan solidaritas di tengah krisis.

Eksekusi Teknis dan Ketegangan Maksimal: Review Film Train to Busan: Zombie Korea Terbaik?

Yeon Sang-ho, yang sebelumnya dikenal lewat animasi gelap seperti The King of Pigs dan The Fake, berhasil menerjemahkan gaya visualnya ke live-action dengan sangat apik. Kereta KTX yang sempit menjadi “ruang tertutup” sempurna untuk membangun claustrophobia dan ketegangan konstan. Adegan zombie pertama di gerbong makan langsung jadi salah satu opening paling ikonik dalam genre zombie. Choreografi zombie-nya sangat realistis: gerakan cepat, agresif, tapi tetap terasa seperti manusia yang kehilangan akal. Sound design dan scoring karya Jang Young-gyu juga mendukung suasana: suara napas berat, deru kereta, dan musik latar yang minimalis tapi menegangkan. Adegan-adegan ikonik seperti koridor kereta yang penuh zombie, momen “tangan kecil” di gerbong akhir, atau scene di terowongan masih sering dibahas sampai sekarang.

Warisan dan Pengaruh yang Masih Terasa

Train to Busan bukan hanya sukses komersial, tapi juga mengubah persepsi global terhadap film zombie Korea. Sebelum film ini, genre zombie lebih identik dengan Hollywood atau film slow-burn seperti 28 Days Later. Train to Busan membuktikan bahwa zombie movie bisa sangat emosional, punya pesan kemanusiaan kuat, dan tetap mencekam. Film ini memicu gelombang zombie Korea lain seperti Kingdom (Netflix), #Alive, Peninsula (sekuel yang kurang sukses), dan bahkan memengaruhi beberapa produksi internasional. Di luar Korea, Train to Busan menjadi pintu masuk banyak penonton Barat ke sinema Korea modern, bersama Parasite dan Oldboy. Sepuluh tahun kemudian, film ini masih sering masuk daftar “best zombie movies ever” di berbagai platform dan tetap jadi referensi utama ketika orang membahas zombie movie dengan cerita keluarga yang menyentuh.

Kesimpulan

Sepuluh tahun berlalu, Train to Busan tetap berdiri tegak sebagai film zombie Korea terbaik—bahkan mungkin salah satu zombie movie terbaik di dunia. Kombinasi ketegangan survival yang mencekam, emosi keluarga yang dalam, dan eksekusi teknis yang apik membuatnya sulit dikalahkan. Gong Yoo sebagai ayah yang berubah, Ma Dong-seok sebagai pelindung tangguh, dan momen-momen air mata di akhir film masih terasa sangat kuat hingga sekarang. Bagi yang belum menonton, ini adalah salah satu film yang wajib ditonton—bukan hanya karena zombienya, tapi karena cerita manusia di baliknya. Bagi yang sudah menonton berkali-kali, setiap ulang tahun rilisnya tetap terasa seperti pengingat bahwa zombie movie juga bisa menyentuh hati. Train to Busan bukan sekadar film zombie—ia adalah perjalanan emosional yang tak lekang oleh waktu.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *