Review Jujur Mengenai Film Terbaru Marty Supreme. Marty Supreme (2025) produksi A24 menjadi salah satu film paling dibicarakan akhir tahun ini, tayang perdana secara rahasia di New York Film Festival Oktober lalu dan resmi rilis teatrikal 25 Desember 2025. Disutradarai Josh Safdie (solo tanpa saudaranya Benny) dan dibintangi Timothée Chalamet sebagai Marty Mauser—seorang pemuda ambisius dari Lower East Side New York tahun 1950-an yang bertekad jadi juara dunia table tennis meski dianggap remeh. Berlatar pasca-Perang Dunia II dengan sentuhan humor gelap, hustle, dan kritik terhadap ambisi toksik, review film berdurasi sekitar 2 jam 29 menit ini terasa seperti “Uncut Gems” versi ping pong—cepat, intens, dan penuh energi. Dengan budget besar untuk A24 (sekitar $60-70 juta), Chalamet yang sudah latihan table tennis bertahun-tahun, plus cast ensemble termasuk Gwyneth Paltrow, Odessa A’zion, Kevin O’Leary, Abel Ferrara, dan Tyler, the Creator, film ini langsung jadi sorotan Oscar season.
Sinopsis dan Gaya Narasi Film Marty Supreme
Cerita mengikuti Marty Mauser, pemuda Yahudi yang bekerja di toko sepatu pamannya tapi mimpi besarnya adalah jadi legenda table tennis. Dari pertemuan awal dengan kekasih masa kecil yang sudah menikah hingga perjalanan ke kejuaraan internasional di London, Paris, Sarajevo, Tangier, Kairo, dan Tokyo, Marty melakukan segala cara—bohong, curang, manipulasi—untuk maju. Ia bertemu gangster bersenjata, bintang film pudar (Paltrow sebagai Kay Stone), dan sponsor kaya yang eksentrik. Safdie membangun narasi seperti permainan table tennis itu sendiri: cepat, tak terduga, penuh spin dan rally panjang. Gaya visualnya hiperaktif—kamera bergerak liar, editing tajam, dan musik aneh campur 80-an needle drops (Public Image Ltd., Peter Gabriel) meski setting 1950-an. Ini bukan film olahraga konvensional tanpa montage latihan atau penjelasan teknik; lebih ke studi karakter tentang ambisi yang menghancurkan, dengan humor absurd dan momen gelap seperti lelucon Holocaust atau kekerasan tak terduga.
Performa Pemeran dan Produksi
Timothée Chalamet memberikan performa terbaik kariernya sebagai Marty—karismatik, gugup, egois, dan rapuh sekaligus. Ia berhasil membuat penonton ikut deg-degan sekaligus kesal dengan karakter yang tak pernah berhenti bergerak atau bicara, tapi akhirnya terasa hampa. Chalamet bermain table tennis dengan autentik berkat latihan panjang, dan ekspresinya penuh energi liar yang membuat Marty terasa hidup. Gwyneth Paltrow kembali ke layar lebar dengan peran Kay Stone yang sensual dan cerdas—ia jadi kontras sempurna bagi Marty, menunjukkan sisi kerapuhan di balik ambisi. Ensemble pendukung seperti Odessa A’zion (kekasih masa kecil), Abel Ferrara (gangster), dan Kevin O’Leary (sponsor kaya) menambah warna, plus cameo dari David Mamet, Fran Drescher, dan lainnya. Produksi memukau: sinematografi Darius Khondji tangkap era 1950-an dengan 35mm film, desain produksi Jack Fisk autentik, dan scoring Daniel Lopatin yang sintetis tapi nostalgic. Film ini terasa besar, epik, dan penuh detail kecil yang cerdas.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan utama adalah energi yang tak henti—film ini propulsive, lucu, thrilling, dan penuh kejutan, dengan kritik tajam terhadap hustle Amerika, ego, dan harga kesuksesan. Banyak yang bilang ini salah satu film terbaik 2025, dengan Chalamet sebagai kandidat kuat Oscar Best Actor. Namun, kekurangannya ada pada karakter utama yang sangat tidak disukai—beberapa merasa terlalu toksik dan berulang, membuat akhir terasa contrived atau kurang emosional. Ada juga momen vulgar (bahasa kasar, kekerasan, nudity) yang berlebih, dan plot kadang terasa overlong atau absurd berlebihan. Rating Rotten Tomatoes tinggi (sekitar 90%+), tapi ada kritik bahwa film lebih fokus pada spectacle daripada hati. Meski begitu, ini film yang memancing diskusi panjang soal ambisi dan moralitas.
Kesimpulan Marty Supreme
adalah film ambisius yang sukses jadi salah satu highlight 2025—cepat, menghibur, dan mendalam sekaligus, dengan performa Chalamet yang luar biasa sebagai pusatnya. Josh Safdie membuktikan dirinya sebagai sutradara visioner yang bisa mengubah table tennis jadi metafor besar tentang mimpi Amerika. Meski karakter utamanya sulit disukai dan ada momen berlebih, energi, humor, dan kritik sosialnya membuatnya tak terlupakan. Bagi penggemar Uncut Gems atau yang suka film karakter kompleks, ini wajib tonton di bioskop—siapkan diri untuk roller coaster yang tak bisa berhenti. Di akhir tahun yang penuh film besar, Marty Supreme justru terasa paling hidup dan berani. Selamat menonton, dan semoga kamu tak kehabisan napas!

